Dalam ekosistem pendidikan pesantren, tradisi Wetonan (Bandongan) memiliki makna yang jauh melampaui proses belajar-mengajar biasa. Metode ini adalah mekanisme otentik untuk mempertahankan sanad (mata rantai periwayatan ilmu) yang bersambung hingga kepada penulis kitab, bahkan hingga Rasulullah SAW. Dalam konteks ini, Peran Sentral Kyai sangat fundamental, bertindak sebagai mediator dan penjamin keabsahan ilmu yang ditransfer kepada ribuan santri. Peran Sentral Kyai inilah yang membedakan pembelajaran di pesantren dengan sistem akademik modern, menjanjikan tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keberkahan (barokah) ilmu.
Peran Sentral Kyai dalam Wetonan dimulai dari pemilihan kitab yang akan dikaji. Kyai memilih kitab berdasarkan tingkat kesulitan dan kebutuhan santri, memastikan kurikulum pesantren sesuai dengan tradisi keilmuan yang ia warisi. Ketika proses Wetonan berlangsung, Kyai membaca (qira’ah) teks Kitab Kuning, menerjemahkan (terjemah), dan memberikan penjelasan (syarah). Kemampuan Kyai untuk menerjemahkan teks berbahasa Arab klasik ke dalam bahasa lokal (misalnya Jawa, Sunda, atau Indonesia) secara akurat dan cepat adalah keahlian yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menunjukkan kedalaman ilmu Kyai yang tidak hanya menguasai teks, tetapi juga konteksnya.
Selain transfer pengetahuan, aspek sanad (transmisi keilmuan) adalah dimensi spiritual yang paling disoroti. Santri meyakini bahwa dengan menyimak langsung dari Kyai yang telah menerima ilmu dari gurunya (Kyai sebelumnya), maka ilmu yang mereka peroleh menjadi sah dan terberkahi. Barokah ini diharapkan mempermudah santri dalam memahami, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu tersebut. Dalam sebuah sesi kajian Kitab Al-Hikam pada hari Ahad, 15 Desember 2024, salah satu Kyai sepuh menyampaikan bahwa Peran Sentral Kyai adalah memastikan santri tidak hanya pandai, tetapi juga berakhlak baik, karena ilmu tanpa etika akan menjadi fitnah.
Meskipun metode ini bersifat kolektif, Kyai juga berfungsi sebagai figur otoritatif yang memastikan ketertiban dan kedisiplinan. Misalnya, Kyai dapat mengamati santri yang tampak kurang fokus dan memberikan teguran ringan atau nasihat. Karena efisiensi metode ini memungkinkan penyampaian materi secara massal, Kyai dapat menyelesaikan pembahasan kitab-kitab tebal dalam waktu yang singkat, misalnya hanya dalam rentang waktu Pengajian Pasaran Ramadhan selama 30 hari. Kehadiran fisik Kyai dalam majelis Wetonan secara berkelanjutan menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan penjamin kualitas tertinggi bagi perjalanan spiritual dan keilmuan santri.