Dalam dunia pesantren, tradisi mengkaji kitab kuning, atau kitab klasik karya ulama terdahulu, masih menjadi pilar utama pendidikan. Metode pembelajaran klasik yang diterapkan dalam proses ini telah terbukti efektif dalam melahirkan para ulama dan cendekiawan yang mumpuni dalam ilmu agama. Meskipun zaman telah berganti dengan teknologi yang semakin canggih, metode ini tidak kehilangan relevansinya, bahkan justru menjadi keunggulan tersendiri dalam membentuk karakter santri yang teliti, kritis, dan berakhlak mulia. Keberadaannya menjadi jembatan antara keilmuan Islam masa lalu dengan kebutuhan umat di masa kini.

Salah satu ciri khas dari metode pembelajaran klasik adalah sistem sorogan dan bandongan. Dalam sistem sorogan, santri secara individual berhadapan langsung dengan kyai atau ustaz untuk membacakan dan memahami teks kitab. Kyai akan menyimak, membetulkan bacaan, dan menjelaskan makna dari setiap kata. Metode ini menciptakan interaksi personal yang mendalam, memastikan setiap santri mendapatkan perhatian penuh dan pemahaman yang komprehensif. Pada hari Jumat, 14 Juli 2025, di Pondok Pesantren Nurul Huda, seorang santri senior, Muhammad Ridwan, terlihat khusyuk menghadap kyai untuk mengkaji kitab fiqih Fathul Qarib, sebuah pemandangan yang rutin terjadi. Sementara itu, sistem bandongan melibatkan seorang kyai yang membaca dan menjelaskan kitab, sementara para santri menyimak dan mencatat. Metode ini memungkinkan penyebaran ilmu kepada banyak santri dalam satu waktu.

Selain sorogan dan bandongan, metode pembelajaran klasik juga melatih santri untuk memiliki pemahaman yang holistik. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga diajarkan untuk memahami kaidah-kaidah nahwu (gramatika) dan shorof (morfologi) Bahasa Arab agar dapat mengurai makna teks secara mandiri. Laporan internal Pondok Pesantren Raudhatul Ulum per tanggal 25 Agustus 2025 menunjukkan bahwa santri yang menguasai kitab kuning memiliki kemampuan analisis teks yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan terjemahan. Ini membuktikan bahwa metode yang tampak kuno ini justru melahirkan pemikir-pemikir yang mandiri.

Lebih dari sekadar transfer ilmu, penguasaan kitab kuning melalui metode pembelajaran klasik juga menanamkan nilai-nilai luhur. Kesabaran dalam menghadapi teks yang rumit, ketekunan dalam mengulang pelajaran, dan adab terhadap guru adalah pelajaran non-akademis yang menjadi pondasi karakter santri. Sebagai contoh, dalam sebuah peristiwa yang tercatat dalam berita harian Warta Santri edisi 5 September 2025, seorang santri dari Pesantren Darussalam mendapatkan penghargaan atas kejujurannya menyerahkan uang temuan kepada petugas keamanan yang kebetulan sedang bertugas di area kantin. Kejujuran ini, menurut keterangan yang diberikan oleh pengasuh pondok, adalah buah dari pembiasaan akhlak yang diajarkan dalam setiap sesi kajian kitab, menunjukkan bahwa pelajaran spiritual dan intelektual saling berkaitan erat. Oleh karena itu, metode pembelajaran klasik tetap relevan dan tak lekang oleh zaman.