Pendidikan pesantren tidak hanya fokus pada transfer ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga pada pemurnian hati dan niat, yang dikenal sebagai ikhlas. Jalan Mencapai Ikhlas bagi seorang santri diwujudkan secara nyata melalui rutinitas wirid dan doa harian yang dilaksanakan secara kolektif. Wirid dan dzikir yang dilakukan secara konsisten setelah shalat berjamaah merupakan praktik spiritual yang berfungsi sebagai jangkar emosional dan penyeimbang di tengah padatnya jadwal belajar. Jalan Mencapai Ikhlas ini mengajarkan santri bahwa setiap amal perbuatan, baik belajar, mengaji, maupun berorganisasi, harus dilandasi semata-mata karena mengharap ridha Allah.
Wirid harian di pesantren biasanya terdiri dari rangkaian dzikir dan doa ma’tsurat (yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW) yang dibaca bersama-sama setelah Shalat Subuh dan Shalat Maghrib. Selama sesi ini, santri diwajibkan untuk fokus dan meresapi setiap kalimat dzikir, seperti istighfar dan tasbih, yang bertujuan membersihkan hati dari kotoran-kotoran duniawi. Durasi wirid ini bisa berlangsung antara 15 hingga 20 menit, tergantung tradisi pesantren, dan dipimpin langsung oleh ustadz atau petugas yang ditunjuk. Rutinitas ini menciptakan suasana spiritual yang mendalam, membantu santri melatih kesabaran dan menenangkan pikiran.
Selain wirid kolektif, pesantren juga mendorong praktik doa mandiri, terutama pada waktu-waktu mustajab seperti setelah Shalat Tahajjud di sepertiga malam terakhir. Momen ini memberikan ruang pribadi bagi santri untuk berkeluh kesah, memohon ampunan, dan merencanakan niat untuk hari berikutnya. Latihan doa yang konsisten ini secara bertahap menanamkan kesadaran muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), yang merupakan fondasi dari Jalan Mencapai Ikhlas. Santri belajar untuk tidak lagi mengharapkan pujian dari manusia, melainkan pengakuan dari Allah semata.
Penguatan spiritual ini sangat penting untuk menopang kehidupan santri yang dituntut serba mandiri dan disiplin. Ketika kelelahan melanda atau tekanan belajar meningkat, wirid menjadi penguat yang mengingatkan mereka akan tujuan utama. Berdasarkan laporan internal Pondok Pesantren Al-Falah pada Agustus 2025, implementasi program dzikir dan wirid terstruktur berhasil meningkatkan tingkat fokus belajar santri sebesar 10% dan menekan angka perselisihan antar santri. Dengan demikian, rutinitas wirid dan doa harian di pesantren bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan metode pendidikan karakter yang efektif untuk membimbing santri menapaki Jalan Mencapai Ikhlas.