Sore hari di Pesantren Darul Khairat menghadirkan pemandangan yang menenangkan jiwa. Ketika matahari mulai condong ke arah barat, ribuan santri berkumpul di aula utama dan selasar masjid dengan satu fokus yang sama, yakni menatap lembaran-lembaran kertas kuning yang sarat dengan ilmu pengetahuan peninggalan para ulama salaf. Kegiatan memaknai baris demi baris kitab ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menyelami samudera pemikiran Islam yang mendalam. Di bawah bimbingan kiai yang arif, setiap kata kunci dan struktur kalimat dalam bahasa Arab dibedah secara teliti guna menemukan hakikat hukum dan akhlak yang terkandung di dalamnya.
Proses pemaknaan ini biasanya dilakukan dengan metode pemberian makna pegon, di mana santri menuliskan arti kata per kata di bawah teks asli menggunakan aksara Arab-Jawa atau Arab-Sunda. Ketelitian adalah kunci utama dalam kegiatan ini. Salah sedikit dalam memberikan harakat atau posisi i’rob bisa mengubah makna satu kalimat secara keseluruhan. Oleh karena itu, suasana khidmat sangat terjaga selama pengajian berlangsung. Tidak ada suara lain yang terdengar selain lantunan suara kiai yang membacakan kitab dan gesekan pena santri di atas kertas. Ketenangan ini menciptakan frekuensi belajar yang sangat tinggi, di mana pesan-pesan moral dari kitab tersebut seolah meresap langsung ke dalam sanubari setiap individu yang hadir.
Bagi para santri di Darul Khairat, waktu sore menjelang berbuka adalah momentum yang paling menantang sekaligus paling berkah. Meskipun rasa lapar dan dahaga mulai terasa memuncak, semangat untuk menyelesaikan bab demi bab dalam kitab kuning tidak pernah luntur. Mereka percaya bahwa keletihan dalam menuntut ilmu di bulan Ramadan akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Kitab yang dipelajari pun bervariasi, mulai dari kitab hukum praktis hingga kitab yang membahas tentang penataan hati dan etika pergaulan. Setiap baris yang dibaca membawa mereka pada pemahaman baru tentang bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik di mata Tuhan dan sesama manusia.