Membangun Literasi Digital di lingkungan pesantren kini menjadi prioritas yang tak terhindarkan. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, pesantren dituntut untuk tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga pusat edukasi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dua pekan lalu, tepatnya pada hari Rabu, 17 Agustus 2025, sebuah pelatihan intensif mengenai literasi digital diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Iman, yang dihadiri oleh 150 santri dan 30 pengajar. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) setempat, Bapak Ramli S.T., yang menekankan pentingnya penggunaan internet secara bijak dan produktif.

Para santri dan ustadz/ustadzah di pesantren kini dihadapkan pada tantangan besar. Di satu sisi, internet menyediakan akses tak terbatas ke sumber-sumber ilmu pengetahuan, termasuk kitab-kitab klasik yang telah didigitalisasi, serta platform pembelajaran daring. Di sisi lain, mereka juga harus waspada terhadap konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme. Oleh karena itu, membangun literasi digital bukan sekadar tentang penguasaan teknologi, melainkan juga kemampuan untuk menyaring informasi, memverifikasi kebenaran, dan memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Pada hari Jumat, 19 Agustus 2025, sebuah tim dari Pusat Studi Agama dan Masyarakat (Pusam) mengadakan lokakarya kecil di pesantren tersebut, yang fokus pada cara mengidentifikasi hoaks yang sering beredar di media sosial.

Proses membangun literasi digital di pesantren melibatkan beberapa aspek. Pertama, penyediaan infrastruktur yang memadai, seperti akses internet yang stabil dan perangkat komputer. Kedua, integrasi kurikulum yang mengajarkan keterampilan digital, mulai dari pengoperasian perangkat lunak dasar hingga penggunaan media sosial untuk dakwah dan publikasi. Ketiga, pembentukan tim khusus yang bertugas mengelola konten digital dan memberikan bimbingan kepada santri. Pada hari Minggu, 21 Agustus 2025, petugas dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polsek Sukmajaya, yang dipimpin oleh Ipda M. Taufik, memberikan edukasi mengenai bahaya cyberbullying dan kejahatan siber lainnya di hadapan para santri. Kunjungan ini merupakan bagian dari program kolaborasi antara kepolisian dan lembaga pendidikan untuk menciptakan lingkungan digital yang aman.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pesantren telah mengambil inisiatif proaktif untuk memastikan para santri siap menghadapi era digital. Dengan literasi digital yang kuat, santri tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten positif yang mampu menyebarkan pesan-pesan kebaikan. Mereka bisa membuat video dakwah singkat, mengelola blog berisi tulisan-tulisan inspiratif, atau bahkan mengembangkan aplikasi sederhana. Ini adalah cara pesantren berkontribusi dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan melek teknologi. Program-program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat karakter santri agar tetap teguh di tengah arus informasi yang tak terkendali.