Pesantren adalah salah satu institusi pendidikan tertua dan paling dihormati di Indonesia, yang telah lama menjadi benteng ilmu agama. Namun, di era modern ini, pesantren menghadapi tantangan untuk menjaga relevansi ajarannya. Kunci keberhasilan mereka terletak pada Cara Pesantren mengajar ilmu agama, yaitu dengan “membumikan langit.” Artinya, pesantren tidak hanya mengajarkan teori-teori agama yang luhur, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga santri dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam konteks sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berubah. Pesantren ini memastikan bahwa ilmu yang dipelajari tidak hanya berhenti di hafalan, tetapi juga menjadi panduan hidup yang praktis dan relevan.

Salah satu Cara Pesantren untuk mencapai hal ini adalah melalui pendekatan yang holistik, yang menggabungkan metode tradisional dan inovatif. Secara tradisional, pesantren menggunakan sistem sorogan dan bandongan untuk memastikan pemahaman teks-teks klasik (kitab kuning) secara mendalam. Sistem sorogan, di mana santri membaca kitab di hadapan kiai untuk dikoreksi, mengajarkan ketelitian. Sementara itu, sistem bandongan, di mana kiai mengajar dan santri mencatat, membangun pemahaman kolektif. Kombinasi metode ini memastikan bahwa fondasi keilmuan santri sangat kuat. Menurut Ustadz B. Santoso, dalam sebuah lokakarya pendidikan pesantren pada hari Rabu, 19 November 2025, metode ini telah terbukti efektif selama berabad-abad dalam mencetak ulama-ulama besar.

Selain itu, banyak pesantren modern kini mengintegrasikan ilmu agama dengan isu-isu kontemporer melalui diskusi kelompok, seminar, dan studi kasus. Dalam pelajaran fikih, misalnya, santri tidak hanya belajar hukum-hukumnya, tetapi juga mendiskusikan bagaimana hukum tersebut relevan dengan kehidupan modern, seperti etika berbisnis online, penggunaan media sosial, atau isu-isu lingkungan. Pendekatan ini melatih santri untuk berpikir kritis dan menerapkan ilmu agama secara kontekstual. Ini adalah Cara Pesantren untuk mencetak generasi yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial. Bripka M. Firdaus, seorang petugas kepolisian, dalam kunjungannya ke acara sosialisasi di pesantren pada hari Senin, 10 November 2025, berpesan bahwa santri yang memiliki pemahaman agama yang mendalam dan juga kemampuan berpikir kritis adalah aset berharga bagi bangsa, karena mereka dapat membawa pesan kebaikan di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, Cara Pesantren mengajar ilmu agama telah berevolusi menjadi sistem yang dinamis, yang tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan Islam, tetapi juga merangkul inovasi. Dengan memadukan metode klasik dan modern, pesantren berhasil mencetak generasi santri yang tidak hanya memiliki hafalan yang kuat, tetapi juga pemahaman yang mendalam, moralitas yang kokoh, dan kemampuan berpikir kritis. Ini adalah bukti bahwa pendidikan pesantren jauh lebih dari sekadar hafalan; ia adalah proses pembentukan karakter dan intelektualitas yang holistik dan relevan.