Pertanyaan mengenai efektivitas sistem pendidikan kuno sering kali muncul di tengah modernisasi kurikulum sekolah formal. Banyak pakar pendidikan mulai meneliti mengapa metode pembelajaran tertentu di pesantren mampu bertahan selama berabad-abad. Salah satu alasan utamanya adalah karena sistem Sorogan memberikan ruang bagi verifikasi pengetahuan secara langsung. Metode ini secara nyata mampu meningkatkan pemahaman kitab bagi para pelajar tradisional karena sifatnya yang interaktif dan intensif. Setiap santri dituntut untuk berperan aktif dalam membongkar makna tekstual maupun kontekstual dari literatur yang mereka pelajari di depan pengajar mereka.
Alasan teknis mengapa metode ini dianggap unggul terletak pada sistem feedback instan. Ketika seorang pelajar mencoba menjelaskan isi teks, sang pengajar akan memberikan koreksi pada saat itu juga. Hal ini memperkuat pemahaman kitab karena kesalahan tidak dibiarkan mengendap dalam memori jangka panjang. Bagi seorang santri, proses ini memang menantang, namun di situlah letak transformasi intelektual terjadi. Dengan frekuensi pertemuan yang rutin dalam sistem Sorogan, penguasaan tata bahasa Arab seperti Nahwu dan Sharaf dapat dipraktikkan langsung pada objek teks yang sedang dipelajari, bukan sekadar teori di atas kertas.
Selain itu, pertimbangan psikologis juga menjawab mengapa metode ini sangat efektif. Adanya kedekatan emosional antara guru dan murid membuat proses transfer informasi menjadi lebih lancar. Fokus utama dalam pendalaman pemahaman kitab adalah kehati-hatian dalam menafsirkan hukum atau ajaran agama. Melalui pengawasan ketat, santri terhindar dari pemahaman yang keliru atau ekstrem. Sistem Sorogan menciptakan standar mutu yang sangat tinggi, di mana seorang murid tidak diperbolehkan lanjut ke bab berikutnya sebelum benar-benar menguasai materi yang sedang dihadapi secara tuntas dan mendalam.
Sebagai kesimpulan, efektivitas sistem ini terletak pada perpaduan antara disiplin akademik dan bimbingan spiritual. Alasan mengapa metode ini tetap relevan adalah karena kemampuannya dalam mencetak ahli agama yang mumpuni. Kualitas pemahaman kitab yang didapat melalui jalur ini jauh lebih stabil dibandingkan dengan metode belajar mandiri tanpa bimbingan. Setiap santri yang lulus dari sistem Sorogan biasanya memiliki kedalaman ilmu yang diakui oleh komunitas luas. Warisan pendidikan ini adalah bukti nyata bahwa ketekunan dalam belajar secara bertahap dan terbimbing adalah kunci utama dalam menguasai khazanah keilmuan klasik yang sangat luas dan kompleks.