Metode sorogan telah lama menjadi tulang punggung pendidikan di pondok pesantren, terbukti ampuh dalam mengasah intelektual santri secara mendalam. Sistem pengajaran personal ini tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk daya nalar, ketelitian, dan kemampuan analisis yang kuat.
Sorogan adalah proses pembelajaran di mana santri secara bergiliran membaca kitab kuning di hadapan kiai atau ustaz. Guru akan menyimak setiap kata yang dibaca, mengoreksi kesalahan pada bacaan, makna, dan i’rab (perubahan harakat akhir kata), kemudian menjelaskan secara detail. Interaksi satu lawan satu ini memungkinkan guru untuk fokus pada kebutuhan individual santri, memastikan setiap konsep dipahami dengan benar. Ini sangat efektif untuk mengasah intelektual karena santri dituntut untuk persiapan maksimal dan berani bertanya jika ada kesulitan, mendorong pemikiran kritis sejak dini.
Manfaat lain dari sorogan adalah melatih konsentrasi dan ketelitian santri. Dalam proses ini, tidak ada celah untuk bersantai; setiap santri harus benar-benar fokus pada teks dan penjelasan guru. Mereka belajar untuk menangkap detail-detail kecil yang penting dalam memahami teks-teks keagamaan yang kompleks. Pada tanggal 18 Mei 2025, Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ar-Riyadh di Bogor mengadakan ujian tahsin dan tajwid dengan metode sorogan, yang diikuti oleh 150 santri. Ustaz Hasanudin, penguji dalam ujian tersebut, menyatakan bahwa santri yang konsisten mengikuti sorogan memiliki kemampuan membaca dan memahami kitab yang jauh lebih baik.
Selain itu, sorogan juga membantu mengasah intelektual dalam aspek hafalan dan pemahaman komprehensif. Santri seringkali diminta untuk mengulang bagian-bagian tertentu dari kitab, yang memperkuat daya ingat mereka. Proses ini tidak hanya tentang menghafal, tetapi juga memahami konteks dan implikasi hukum atau moral dari setiap ajaran. Banyak ulama besar di Indonesia lahir dari tradisi sorogan yang ketat ini, menunjukkan betapa efektifnya metode ini dalam mencetak intelektual agama yang mumpuni. Pada hari Kamis, 25 Juli 2025, dalam sebuah simposium nasional tentang “Metode Pembelajaran Kitab Kuning”, Profesor Dr. Abdullah M.Ag., seorang pakar filologi Islam, menegaskan bahwa sorogan adalah metode paling otentik untuk mengasah intelektual santri dalam memahami literatur klasik Islam. Acara ini dihadiri oleh berbagai akademisi dan pihak terkait dari Kementerian Agama.
Dengan demikian, sorogan bukan sekadar tradisi, melainkan inti pembelajaran yang strategis. Ini adalah fondasi yang kokoh untuk mengasah intelektual santri, membekali mereka dengan kemampuan analisis, pemahaman mendalam, dan ketekunan yang diperlukan untuk menjadi cendekiawan muslim di masa depan.