Fenomena perubahan iklim global bukan lagi sekadar prediksi ilmiah yang jauh di masa depan, melainkan kenyataan pahit yang mulai dirasakan oleh masyarakat di garis pantai Nusantara. Isu mengenai Pesisir Terancam tenggelam menjadi alarm keras bagi kedaulatan wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Menanggapi ancaman serius ini, Darul Khairat menyampaikan sebuah pesan penting dan mendalam bagi seluruh rakyat serta pemangku kebijakan di Republik Indonesia (RI). Pesan ini bukan hanya berisi peringatan teknis, tetapi juga sentuhan moral tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan laut dan ekosistem di sekitarnya.

Kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh mencairnya es di kutub serta pemanasan suhu global telah menyebabkan banyak desa nelayan mulai tergerus oleh rob. Dalam pandangan Darul Khairat, kondisi ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan antara aktivitas eksploitasi manusia dengan kemampuan alam untuk memulihkan diri. Melalui kajian-kajian yang dilakukan, mereka menekankan bahwa perlindungan terhadap kawasan pesisir harus menjadi prioritas nasional yang tidak bisa ditunda lagi. Pengrusakan hutan mangrove dan reklamasi yang tidak terkendali dianggap sebagai faktor percepatan hilangnya daratan yang seharusnya melindungi pemukiman warga dari hantaman ombak.

Pesan yang disampaikan untuk RI ini mencakup ajakan untuk melakukan reboisasi pesisir secara masif. Penanaman kembali bakau atau mangrove bukan hanya berfungsi sebagai penahan abrasi alami, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut yang menjadi sumber penghidupan nelayan. Darul Khairat mengajak pemerintah dan masyarakat untuk melihat laut bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai pemersatu yang harus dijaga kesucian dan kelestariannya. Mereka mendorong adanya kebijakan pembangunan yang lebih berpihak pada ekologi dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi sesaat yang merusak fondasi lingkungan hidup.

Selain langkah fisik, aspek edukasi spiritual juga ditekankan dalam menghadapi krisis ini. Masyarakat perlu disadarkan bahwa menjaga Tenggelam atau hilangnya sebuah wilayah daratan adalah bentuk tanggung jawab keagamaan. Hilangnya daratan berarti hilangnya ruang hidup, tempat ibadah, dan warisan budaya yang telah ada selama berabad-abad. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara teknologi mitigasi bencana dengan kearifan lokal yang selama ini telah terbukti mampu menjaga keharmonisan antara manusia dan laut. Darul Khairat memandang bahwa jika kita tidak segera merubah pola hidup dan kebijakan pembangunan, maka masa depan generasi mendatang di wilayah pesisir akan berada dalam ketidakpastian yang sangat mengkhawatirkan.